Diposkan pada Blog

About Music

“Ko, tau lagu Big Bang – Blue gak?”

“Kak, coba dengerin ini deh…”

“Chris, kamu bisa siapkan murid kamu untuk ujian / konser bulan depan?”

“Komposisi itu tidak sebatas notasi. Lebih kompleks daripada itu.”

“Saya masukkan kamu ke kelas Introduction ya? kayaknya kamu belum siap untuk kelas Premium.”

“Kamu itu termasuk pintar, Christian. Akan lebih baik apabila kamu menyertakan contoh-contoh lebih men-detail lagi dari setiap pernyataan yang kamu berikan.”

“Itu coba kamu fast-forward ke menit 20.”

“Ini gue ketemu pas di Hongkong. Ini yang loe mau bukan?”

“Masih gitaran nggak, to?”

“Gimana konser lo jadi gak tahun ini?”

“Ayo dong rekam lagu semusim, gue suka tuh pas lo bawain itu!”

“Jadi, bong ini pinter banget ya, dia ambil momen yang sangat tepat saat cover lagu ini…”

“Suara sama gitar lo biasa aja ah.”

“Suara lo ngepop abis. Cocok lah buat di ranah pop.”

“Chris, lo tertarik buat gantiin vokalisnya 21st night gak?”

“Bro, nyanyi ya di konser gue?”

“Wah ganti-ganti lagu begini, model-model Andre juga nih anak!”

“Serius lo baru 18 tahun? Mana KTP!”

Stay true, man. Songwriting!”

Elo, ude gue kasih kepercayaan, malah eksekusinya memble.”

“Komposisi lo keren banget, ternyata ada the next Andreas!”

“Eksperimen apaan tai… Itu jepang gitu.”

“Chris, boleh bantu tugas akhir gue gak?”

“Yanto, dateng ya ke resital gua!”

“Bong, suara lo mirip afgan deh!”

981715_10201419181710602_428472713_o

Christian Bong (Christian Febrianto Alexander)

Studi musik pertama kali dengan Lucy di Yamaha Topaz Jakarta kira-kira tahun 2004 hingga 2006, lalu memulai studi gitar klasik dengan Ivan Winata secara privat dari 2005 hingga 2009. Pada tahun 2008, saya juga sempat belajar vokal pop dengan Tonny Mucharam di Farabi Hang Lekir, Jakarta. Masa penjajakan ini berujung kepada keputusan saya dan keluarga untuk mendalami musik hingga ke tingkat perguruan tinggi yaitu di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2009, mengambil fokus musik komposisi dengan Matius Shanboone, Otto Sidharta, dan Martin Renatus.

Saya pernah mengikuti beberapa perlombaan semenjak di bangku Sekolah Menengah Atas, diantaranya lomba solo gitar akustik, lomba band, hingga festival komposisi atau lomba jingle saat tingkat perguruan tinggi bahkan umum. Beberapa kali mengisi acara juga di acara musik seperti Java Jazz on The Move, Galeri Indonesia Kaya, hingga hajatan orang lain seperti pernikahan atau acara sebuah majalah (KawanKu). Pernah on air juga di salah satu radio di Jakarta, hingga diliput di media baik itu cetak maupun web-based.

Dari semua jenis pekerjaan di musik, menurut saya pekerjaan yang paling menantang adalah sebagai instruktur profesional. Saya bukan bermaksud untuk mendiskredit bidang pekerjaan lain di bidang musik. Saya memiliki usaha jasa musik pernikahan juga di www.blacnwhitemusik.com dan usaha musik ilustrasi di www.youtube.com/vanilastudio dan saya sangat serius menjalani semua ini. Tapi dari pengalaman pribadi, memang yang tersulit menurut saya adalah mengajar. Saya mengajar musik sebagai instruktur profesional semenjak tahun 2010 hingga hari ini. Instrumen yang saya ajarkan adalah gitar klasik. Saya dulu mengajar di 2 tempat yaitu Vivace Music School dan Octava Music School. Saat tulisan ini ditulis, saya sudah tidak mengajar lagi di kedua tempat tersebut. Banyak sekali yang saya rasakan dalam mengajar, seperti perkenalan dengan jiwa muda yang penuh dengan rasa keingintahuan, antusiasme polos, hingga mimpi-mimpi mereka yang telah dibagikan kepada saya. Tidak lupa juga pengalaman berhubungan dengan komunitas antar pengajar di lingkungan kerja, dimana tidak semua pengajar adalah fulltime musician, atau dengan kata lain mengajar “hanya sebatas sambilan di tengah pekerjaan utamanya sebagai karyawan di kantor”, atau latarbelakang lainnya. Konser? Itu pun menjadi salah satu job desc. kami sebagai instruktur profesional di bidang musik. Mempersiapkan konser untuk murid-murid, baik itu dari mempersiapkan individu atau grup, hingga menjadi panitia acara. Rapat? Evaluasi? Mungkin ini tidak ada di tempat kursus yang sudah sangat besar, namun di kasus saya, ada. Dan cukup sering.

Kenapa ya? kenapa saya merasa bahwa pekerjaan ini berat? bukannya cuma duduk nunggu murid ‘trus ngulang-ngulang materi doang? Ya nggak salah juga sih kalau ada yang menanyakan itu. Tapi bagi pembelajar seperti saya, jujur ini hal yang sangat berat. Dari mulai mengatur jadwal, mempersiapkan materi, menjaga mood, menulis aransemen, mempelajari musik baru yang disukai murid, membuat games, konsultasi dengan rekan guru, laporan kepada orangtua murid, hingga menjaga integritas kita dalam bermusik. Itu semua gak gampang, men. Meskipun demikian, pekerjaan ini termasuk sepele di negara kita ini. Saya harus mengakui bahwa “instruktur musik karbitan” itu sangat mudah ditemui. Karena mudah sekali untuk mengajar di negara ini. Bermodalkan tau sedikit dua dikit mengenai teori, bisa menunjukkan sedikit dua dikit permainan musik, voila ! kamu sudah resmi menjadi instruktur. Sistem sertifikasi di negara ini masih sangat lemah. Saya berani menyatakan ini karena hingga hari ini, seluruh kegiatan profesional saya baik dalam ranah edukasi maupun dunia kreasi atau dunia pertunjukkan, tidak ada satupun yang mempertanyakan sertifikasi saya, walaupun saya memiliki dokumen semua itu. Terkadang pikir saya, “buat apa gue susah-susah perjuangin tuh sertifikat semua kalo ujung-ujungnya ga ditanyain juga? kalo ujung-ujungnya saingan gue yang pada belajar sendiri juga?”

Hingga hari ini, saya masih mengajar namun hanya private class saja. Saya sudah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah musik. Dan hingga hari ini, kecintaan saya kepada dunia musik belum luntur. Hanya saja, media ekspresinya saat ini ebih luas dibanding sebelum-sebelumnya, yaitu ke dunia digital.

Sebagai penutup, izinkan saya cerita sedikit. Mungkin beberapa relasi atau murid atau guru sudah pernah mendengar ini:

Kira-kira tahun 2008 atau 2009, saya terserang sakit radang tenggorokan yang cukup parah. Saat itu dokter mengharuskan saya untuk istirahat kira-kira dua minggu lamanya di rumah. Saat itu, saya masih SMA, dan sedang lagi mengerjakan proyek sekolah (di bidang musik, tentunya). Saya sangat emosi sekali terhadap diri sendiri hingga ingin nangis karena kinerja saya jadi terhambat karena sakit. Dan di saat itu saya ingat, saya pernah diberikan DVD oleh instruktur koor di gereja saya. DVD tersebut seluruhnya berbahasa Jepang. Saya tidak paham apa DVD tersebut, tapi saya tahu sepertinya ada hubungan sama animasi, karena cover DVD tersebut seperti ini:

Joe-Hisaishi-in-Budokan

Setelah saya diamkan cukup lama, akhirnya saya menonton DVD tersebut. Dan ternyata itu adalah DVD konser 25 tahun Joe Hisaishi berkarya di Studio Animasi Ghibli. Saat itu kira-kira temperatur tubuh saya 38°-39° C. Dan di saat itulah sebuah kejadian yang cukup magis terjadi. Secara drastis, suhu tubuh saya menurun, karena saya terlalu bersemangat menonton punggung beliau yang mengayun-ayunkan tangannya di depan puluhan, hingga ratusan orang yang memainkan musik yang diciptakannya, dengan layar yang sungguh besar di depannya, memutar cuplikan setiap animasi yang digubahnya.

hisaishi_1

Pikiran saya saat itu hanya satu: Saya mau merasakannya. Saya mau berada di tempat itu juga. Saya mau. Saya mau! Dan begitu kuatnya pikiran tersebut hingga tubuh ini pun gagal mempertahankan suhu panas di tubuh saya hari itu. Saya seketika sembuh dan langsung semangat. Ya, saya sembuh secara total.

Terhitung semenjak hari itu, hingga hari ini, saya membuat janji terhadap diri saya sendiri:

Tidak peduli apapun yang akan terjadi, saya tidak akan pernah meninggalkan musik dalam hidup saya.

Dan puji Tuhan dan alam semesta serta segala isinya,

saat ini saya masih bermusik.

965958_10201112800331259_1753920809_o

Iklan
Diposkan pada Instagram

About Instagram

Photo 2-17-15

“kira-kira bulan Juni tahun lalu (2014) sih.”

yap. itu adalah jawaban yang selalu gua pakai setiap orang menanyakan pertanyaan:

“kapan lo mulai instagraman ?”

“… kalo gak ada Indovidgram gue gak akan se produktif hari ini sih.”

dan jawaban di atas, adalah jawaban berikutnya atas pertanyaan:

“apa yang bikin lo mau eksis di instagram?”

well, Gue ada akun instagram sebenarnya semenjak 2012. Smartphone gue saat itu adalah Samsung Galaxy Tab 7.0 dengan OS mentok di Honeycomb. Which is, gue gak bisa unggah video meskipun saat itu Instagram sudah bisa video. Saat itu gue masih sangat apatis terhadap dunia sosial media. Bukan berarti gue tidak tahu akan hal itu, tapi lebih ke arah yaudalah. Fokus gue saat itu masih di pekerjaan gue sebagai tenaga pengajar di bidang musik. Nama instagram gue saat itu pun masih @kristianfebrian, lalu gue ubah jadi @christianfebrianto, @christianfebrian, hingga akhirnya gue ubah menjadi @christianbong. Bagi yang bingung kenapa “bong”, ya sesimpel Bong itu adalah marga tionghoa gua. Yap, gue adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa.

Back to topic! Memasuki tahun 2014 tepat di awal tahun, gue beli smartphone baru yaitu iPad mini. Nah, dari situ, jujur gue mulai lebih produktif lagi di dunia sosial media. Tapi waktu itu masih belom pake hashtag, gue masih puas dengan kurang lebih saat itu 200 atau 300 orang total followers gue, which is mostly mereka adalah teman-teman gue dari kampus, sekolah, atau circle lainnya. Berikut gue lampirkan video pertama yang gue post, 50 minggu (hampir setahun) silam:

Photo 2-17-15

Bisa dilihat ya, hashtag gue masih ke bule an banget. He he he 😀 Tujuan gue membuat video-video tersebut saat itu sangatlah sepele. Gue hanya ingin “kabur” dari rutinitas gue saat itu sebagai tenaga pengajar. Tidak mudah menjadi tenaga pengajar. Gue akan bercerita soal suka-duka mengajar di Indonesia di posting-an berikutnya ya! Nah, turning point nya adalah semenjak gue post video ini kira-kira 37 minggu silam:

Photo 2-17-15-2

Video itu direpost atau istilah bekennya adalah diregram oleh Indovidgram. Nah, semenjak hari itu, jujur cara pandang gue terhadap dunia Instagram dan sosial media berubah sepenuhnya. Gue jadi sangat aware terhadap apa peluang yang bisa gue selalu gali setiap harinya dari setiap posting. Dari semenjak itu pun gue mulai merilis beberapa hashtag pribadi gue seperti #publiccover , #satujariajacukup, #collabjauh, hingga akhirnya gue merilis portal musik di Instagram bareng kawan gue @pfdksn, yaitu @indomusikgram. Gue di sini juga ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman baru gue di circle instagram, kepada @kevinchocs @rainersantoso @davidbeatt @sonalibaba @alifpatterson @benakribo @vendryana @ardinhai @aulion @dhinoharyoo @chandraliow @marloernesto @devinaureel @veraveranica @rachelsutanto @gazellecross @saraexcellent @captainruby @yaelahbro @duoharbatah @edhozell @garciandyyy @acs_phinat @tommylimmm @danielkevins @nicholas_raven @janelorenti dan siapapun yang belum gue sebut, thank you for being a part of my socmed journey!

Singkat cerita, gue jadi produktif sekali di instagram, hingga akhirnya saat tulisan ini ditulis, followers (istilah untuk orang yang mengikuti kegiatan gue di dunia instagram) gue di Instagram menembus angka 27.4 k, atau setara dengan dua puluh tujuh ribu empat ratus sekian-sekian. Gue di sini ingin mengucapkan banyak sekali terima kasih karena berkat angka tersebut, profile gue di dunia sosial media juga jadi naik, dan produk-produk mulai berani ikutan nampang di lapak gua. Well, secara teknis Christian Bong sebelum dan sesudah hari ini adalah sama. Tapi ya gini lah dunia sosial media. Angka merupakan segalanya. Mau lo bantah gue dengan teori “banyakan alaynya” atau “likesnya ga sebanding” intinya ya angka itu sangat berpengaruh. Gue lagi males jelasin secara teori maap ya. He he he 😀

Secara garis besar, instagram gue banyak bergerak di bagian musik dan komedi. Bisa cek hashtag #bongmusicgram atau #bongjayusgram. No… no… i’m not a comedian. Itu bukan lapak gua. Tapi ya pernyataan itu bukan berarti gue gak boleh bikin sesuatu yang bertema demikian, bukan? Coba mampir aja ke tautan kedua hashtag di atas untuk mampir ke video-video musik atau komedi gua. Di bagian musik, gue seringkali membuat video tipe splitscreens seperti contoh ini:

S__4915277

atau video simpel atau gue sebut dengan “record and play”, seperti ini:

S__4915278

Bagi yang selama ini suka nanya “pake aplikasi apa mas/kak/bang/om?” gue akan jelaskan secara elaborate di postingan gue berikut-berikutnya ya. Tidak mungkin gue tumpahkan semuanya dalam satu posting-an. Selain di dunia video, gue juga sempat merilis beberapa seri cerita pendek yang gue beri nama hashtag #indocerpen. Di hashtag ini, gue menulis cerita-cerita fiksi pake aplikasi komputer/laptop seperti Photoshop. Siapapun bisa bikin kok. Pake notes di smartphone anda juga bisa. Selama ini cerita yang terlintas di benak gua adalah cerita dewasa dan cerita misteri. Bisa dilihat salah satu contohnya:

S__4915280

Saat ini, gue tidak memiliki mimpi yang muluk-muluk. Gue hanya ingin bisa konsisten dan selalu berkarya, mengembangkan apa yang telah gue mulai, serta berupaya untuk terus berinovasi terhadap setiap karya yang gue buat. Dan gue berharap pula, agar semua orang yang sudah memilih untuk mengikuti gue di Instagram tidak menyesal karena telah mengenal gua secara publik. Suatu saat, gue yakin gue bisa ketemu kalian semua, yang membaca tulisan ini dan tidak mengenal gue secara personal. well, mungkin sekian sharing gue tentang awal mula gue instagram-an hingga hari ini.

i hope this post is not long enough for you to respond it with “TLDR. Terima kasih telah mampir ke web gue ini, dan sampai ketemu di tulisan gue berikutnya!