Diposkan pada Review

FATTY PAO , bukan game puzzle biasa! karena…

halo semua! lama gak nulis, gue promo sedikit ya!

jadi, selain gue produksi konten di @christianbong atau di christianbongmusic, gue memang adalah seorang penata musik untuk game dan animasi dan film (masih belom jago dan populer tapi) di bawah naungan studio gua, Vanila Studio. nahh.. ini adalah salah satu game yang baru aja gue scoring, disimak yuk!

S1

FATTY PAO!

sebuah game puzzle buatan 2 anak kreatif yang juga adalah seorang kakak beradik kembar, yaitu Lenna The dan Lenny The di bawah studio mereka, KappaCode. gw ga bo’ong guys, mereka kembar (ga identik sih), dan seluruh game ini dikerjakan oleh mereka berdua (kecuali audionya).

21192
yang mana Lenna, yang mana Lenny? tebak sendiri ya.. :p

berbekal pengalaman belajar dari tutorial-tutorial di Tutsplus (website yang sangat berguna untuk self-learning guys, and gw nulis ini gak dibayar kok, emang bagus!) dan juga dari YouTube, plus durasi waktu 9 bulan, jadi-lah Fatty Pao ini! udah bisa diunduh lewat google play lho guys! nanti bakal ada untuk platform iOs juga, ditunggu saja ya!

faty

genre game ini adalah puzzle , dengan sistem time attack. bagi yang gatau time attack, intinya sih bertarung melawan waktu. jadi gimana kita bisa menghabiskan donat-donat yang ada di layar dalam kurun waktu yang diberikan. identik sama gluttony orang kota banget nih ya hahaha! well, sebenarnya sistem ini bukan hal yang baru. tapi tetap menarik untuk dicoba! apalagi mengingat yang bikin game ini hanya 2 orang!

S4

nah, bicara soal musik, gue bersama tim gw di Vanila Studio menggunakan pendekatan menata musik dari referensi game serupa (puzzle) dari 2 generasi, yaitu Cut the Rope, dan Puzzle Bobble (gamer lama pasti paham kenapa gue bilang 2 generasi :p ). Seluruh instrumentasi gue proses menggunakan Logic Pro X instruments sekaligus beberapa plug-ins. gue tidak banyak menulis sketsa-sketsa untuk proyek ini. Kebetulan seluruh proses kreasi musiknya mengalir begitu saja. Semoga kalian suka ya!

S5

so, rangkuman semuanya, game ini bukan game puzzle biasa, karena… hanya dibuat oleh 2 orang yang sangat berbakat dari KappaCode! gue rasa apresiasi dan masukan sepantas-pantasnya layak diberikan kepada 2 anak kembar ini 😀

Oke, segitu saja ulasan singkat dari kacamata yang mungkin subjektif. Kalo menurut kalian gimana game ini? komen di bawah dan jangan lupa untuk unduh gamenya di sini dan sebarkan ke teman-teman kalian ya! Salam industri kreatif Indonesia, dari Jakarta 😀

Iklan
Diposkan pada Blog

About Music

“Ko, tau lagu Big Bang – Blue gak?”

“Kak, coba dengerin ini deh…”

“Chris, kamu bisa siapkan murid kamu untuk ujian / konser bulan depan?”

“Komposisi itu tidak sebatas notasi. Lebih kompleks daripada itu.”

“Saya masukkan kamu ke kelas Introduction ya? kayaknya kamu belum siap untuk kelas Premium.”

“Kamu itu termasuk pintar, Christian. Akan lebih baik apabila kamu menyertakan contoh-contoh lebih men-detail lagi dari setiap pernyataan yang kamu berikan.”

“Itu coba kamu fast-forward ke menit 20.”

“Ini gue ketemu pas di Hongkong. Ini yang loe mau bukan?”

“Masih gitaran nggak, to?”

“Gimana konser lo jadi gak tahun ini?”

“Ayo dong rekam lagu semusim, gue suka tuh pas lo bawain itu!”

“Jadi, bong ini pinter banget ya, dia ambil momen yang sangat tepat saat cover lagu ini…”

“Suara sama gitar lo biasa aja ah.”

“Suara lo ngepop abis. Cocok lah buat di ranah pop.”

“Chris, lo tertarik buat gantiin vokalisnya 21st night gak?”

“Bro, nyanyi ya di konser gue?”

“Wah ganti-ganti lagu begini, model-model Andre juga nih anak!”

“Serius lo baru 18 tahun? Mana KTP!”

Stay true, man. Songwriting!”

Elo, ude gue kasih kepercayaan, malah eksekusinya memble.”

“Komposisi lo keren banget, ternyata ada the next Andreas!”

“Eksperimen apaan tai… Itu jepang gitu.”

“Chris, boleh bantu tugas akhir gue gak?”

“Yanto, dateng ya ke resital gua!”

“Bong, suara lo mirip afgan deh!”

981715_10201419181710602_428472713_o

Christian Bong (Christian Febrianto Alexander)

Studi musik pertama kali dengan Lucy di Yamaha Topaz Jakarta kira-kira tahun 2004 hingga 2006, lalu memulai studi gitar klasik dengan Ivan Winata secara privat dari 2005 hingga 2009. Pada tahun 2008, saya juga sempat belajar vokal pop dengan Tonny Mucharam di Farabi Hang Lekir, Jakarta. Masa penjajakan ini berujung kepada keputusan saya dan keluarga untuk mendalami musik hingga ke tingkat perguruan tinggi yaitu di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2009, mengambil fokus musik komposisi dengan Matius Shanboone, Otto Sidharta, dan Martin Renatus.

Saya pernah mengikuti beberapa perlombaan semenjak di bangku Sekolah Menengah Atas, diantaranya lomba solo gitar akustik, lomba band, hingga festival komposisi atau lomba jingle saat tingkat perguruan tinggi bahkan umum. Beberapa kali mengisi acara juga di acara musik seperti Java Jazz on The Move, Galeri Indonesia Kaya, hingga hajatan orang lain seperti pernikahan atau acara sebuah majalah (KawanKu). Pernah on air juga di salah satu radio di Jakarta, hingga diliput di media baik itu cetak maupun web-based.

Dari semua jenis pekerjaan di musik, menurut saya pekerjaan yang paling menantang adalah sebagai instruktur profesional. Saya bukan bermaksud untuk mendiskredit bidang pekerjaan lain di bidang musik. Saya memiliki usaha jasa musik pernikahan juga di www.blacnwhitemusik.com dan usaha musik ilustrasi di www.youtube.com/vanilastudio dan saya sangat serius menjalani semua ini. Tapi dari pengalaman pribadi, memang yang tersulit menurut saya adalah mengajar. Saya mengajar musik sebagai instruktur profesional semenjak tahun 2010 hingga hari ini. Instrumen yang saya ajarkan adalah gitar klasik. Saya dulu mengajar di 2 tempat yaitu Vivace Music School dan Octava Music School. Saat tulisan ini ditulis, saya sudah tidak mengajar lagi di kedua tempat tersebut. Banyak sekali yang saya rasakan dalam mengajar, seperti perkenalan dengan jiwa muda yang penuh dengan rasa keingintahuan, antusiasme polos, hingga mimpi-mimpi mereka yang telah dibagikan kepada saya. Tidak lupa juga pengalaman berhubungan dengan komunitas antar pengajar di lingkungan kerja, dimana tidak semua pengajar adalah fulltime musician, atau dengan kata lain mengajar “hanya sebatas sambilan di tengah pekerjaan utamanya sebagai karyawan di kantor”, atau latarbelakang lainnya. Konser? Itu pun menjadi salah satu job desc. kami sebagai instruktur profesional di bidang musik. Mempersiapkan konser untuk murid-murid, baik itu dari mempersiapkan individu atau grup, hingga menjadi panitia acara. Rapat? Evaluasi? Mungkin ini tidak ada di tempat kursus yang sudah sangat besar, namun di kasus saya, ada. Dan cukup sering.

Kenapa ya? kenapa saya merasa bahwa pekerjaan ini berat? bukannya cuma duduk nunggu murid ‘trus ngulang-ngulang materi doang? Ya nggak salah juga sih kalau ada yang menanyakan itu. Tapi bagi pembelajar seperti saya, jujur ini hal yang sangat berat. Dari mulai mengatur jadwal, mempersiapkan materi, menjaga mood, menulis aransemen, mempelajari musik baru yang disukai murid, membuat games, konsultasi dengan rekan guru, laporan kepada orangtua murid, hingga menjaga integritas kita dalam bermusik. Itu semua gak gampang, men. Meskipun demikian, pekerjaan ini termasuk sepele di negara kita ini. Saya harus mengakui bahwa “instruktur musik karbitan” itu sangat mudah ditemui. Karena mudah sekali untuk mengajar di negara ini. Bermodalkan tau sedikit dua dikit mengenai teori, bisa menunjukkan sedikit dua dikit permainan musik, voila ! kamu sudah resmi menjadi instruktur. Sistem sertifikasi di negara ini masih sangat lemah. Saya berani menyatakan ini karena hingga hari ini, seluruh kegiatan profesional saya baik dalam ranah edukasi maupun dunia kreasi atau dunia pertunjukkan, tidak ada satupun yang mempertanyakan sertifikasi saya, walaupun saya memiliki dokumen semua itu. Terkadang pikir saya, “buat apa gue susah-susah perjuangin tuh sertifikat semua kalo ujung-ujungnya ga ditanyain juga? kalo ujung-ujungnya saingan gue yang pada belajar sendiri juga?”

Hingga hari ini, saya masih mengajar namun hanya private class saja. Saya sudah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah musik. Dan hingga hari ini, kecintaan saya kepada dunia musik belum luntur. Hanya saja, media ekspresinya saat ini ebih luas dibanding sebelum-sebelumnya, yaitu ke dunia digital.

Sebagai penutup, izinkan saya cerita sedikit. Mungkin beberapa relasi atau murid atau guru sudah pernah mendengar ini:

Kira-kira tahun 2008 atau 2009, saya terserang sakit radang tenggorokan yang cukup parah. Saat itu dokter mengharuskan saya untuk istirahat kira-kira dua minggu lamanya di rumah. Saat itu, saya masih SMA, dan sedang lagi mengerjakan proyek sekolah (di bidang musik, tentunya). Saya sangat emosi sekali terhadap diri sendiri hingga ingin nangis karena kinerja saya jadi terhambat karena sakit. Dan di saat itu saya ingat, saya pernah diberikan DVD oleh instruktur koor di gereja saya. DVD tersebut seluruhnya berbahasa Jepang. Saya tidak paham apa DVD tersebut, tapi saya tahu sepertinya ada hubungan sama animasi, karena cover DVD tersebut seperti ini:

Joe-Hisaishi-in-Budokan

Setelah saya diamkan cukup lama, akhirnya saya menonton DVD tersebut. Dan ternyata itu adalah DVD konser 25 tahun Joe Hisaishi berkarya di Studio Animasi Ghibli. Saat itu kira-kira temperatur tubuh saya 38°-39° C. Dan di saat itulah sebuah kejadian yang cukup magis terjadi. Secara drastis, suhu tubuh saya menurun, karena saya terlalu bersemangat menonton punggung beliau yang mengayun-ayunkan tangannya di depan puluhan, hingga ratusan orang yang memainkan musik yang diciptakannya, dengan layar yang sungguh besar di depannya, memutar cuplikan setiap animasi yang digubahnya.

hisaishi_1

Pikiran saya saat itu hanya satu: Saya mau merasakannya. Saya mau berada di tempat itu juga. Saya mau. Saya mau! Dan begitu kuatnya pikiran tersebut hingga tubuh ini pun gagal mempertahankan suhu panas di tubuh saya hari itu. Saya seketika sembuh dan langsung semangat. Ya, saya sembuh secara total.

Terhitung semenjak hari itu, hingga hari ini, saya membuat janji terhadap diri saya sendiri:

Tidak peduli apapun yang akan terjadi, saya tidak akan pernah meninggalkan musik dalam hidup saya.

Dan puji Tuhan dan alam semesta serta segala isinya,

saat ini saya masih bermusik.

965958_10201112800331259_1753920809_o